Kisah di pagi hari yang sangat cerah dan burung-burung bernyanyi dengan merdunya, ruang tanpa waktu terbuka. Memberi peluang untuk kesadaran di dalamnya dan berkehendak menjadi pelukis. Menggambar sesuka hati selalu terpaut dalam diri yang pusing. Lalu mencoba untuk merebahkan diri dengan maksud berpesan kepada kenyataan. Tibalah waktu-seaslinya-tanpa penghambat, kecuali baterai jam dinding rumah.
Kini waktu berjalan seperti sedia kala, dari tadinya telah tiada. Ambil kembali secarik kertas, mengisi harian yang tadi, ruang tanpa waktu. Mengambil juga sebuah kesimpulan yang tergantung pada pohon kontradiksi. Maka berbaburlah menjadi satu untuk ciptakan suasana teramatlah bersesuaian dengan keinginan. Memahami diri agar bertampakkan selalu di bawah sinar matahari yang terik namun sangat cerah.
Ditambah sang 'Cirrus' menjadi hempasan yang berlaku seperti pasir pantai. Biasa putih dan jauh dari diri. Karena jauh menandakan impian diri yang dulu-kecil, tak segan mengagumi. Tak segan pula bertanya, "Seberapa tak pedulikah insan sekitar memandang ?"
Di ujung jalan sana, ingin untuk menerapkan ruang tanpa waktu yang telah lalu. Sedikit perubahan makna tak apa, hanya keinginan segera akan memilikinya.
