Minggu, 29 Juni 2014

Canopus dan Vega

Kegagahan Scorpius ternyata masih konsisten meneduhi pikiran. Menjauhi sekelumit problematika, menjadi pembatas antara ruang semu dengan kenyataan. Pun tanpa aku sadari, lintasan Bima Sakti telah menuntun pada atap rumah yang telah termodifikasi cukup signifikan. Meskipun ragu laksana benih yang terhembus ke sana ke mari, tak se-konsisten konstelasi pada langit malam, tetap saja keindahannya tak akan mampu didustakan.

Ini, Kau, Aku

Langit masih memandang senyum
Dan siul burung terpaksa berseru
Ketika senja urung mendakwah
Kepada raga di tiap sudut kota, ramai melamun

Tetap saja onggokannya geletak
Di perempatan jalan setapak
Tentang kisah burung perindu
Mencari sarapan kelak menyatu

Langit masih memandang senyum
Dan kertas putih mencari pantun
Dengan tinta dan pena, dan akur
Atau kau yang duduk di kursi kondektur
Laju kereta tanpa bising karena santun

Tak ada-kah semut memandang tanya?
Atau seru!
Kawan Ia menulis sajak terlalu singkat
Tentang bulan, bintang, dan langit malam
Terindah di jagat raya kumandang
Perwujudan tiga kata terungkap,
Ini, kau, aku.........