Langit
masih memandang senyum
Dan siul burung terpaksa berseru
Ketika senja urung mendakwah
Kepada raga di tiap sudut kota,
ramai melamun
Tetap saja onggokannya geletak
Di perempatan jalan setapak
Tentang kisah burung perindu
Mencari sarapan kelak menyatu
Langit masih memandang senyum
Dan kertas putih mencari pantun
Dengan tinta dan pena, dan akur
Atau kau yang duduk di kursi
kondektur
Laju kereta tanpa bising karena
santun
Tak ada-kah semut memandang tanya?
Atau seru!
Kawan Ia menulis sajak terlalu
singkat
Tentang bulan, bintang, dan langit
malam
Terindah di jagat raya kumandang
Perwujudan tiga kata terungkap,
Ini,
kau, aku.........
Tidak ada komentar:
Posting Komentar