Hujan....
Awan....
Pesan.....
Mereka mengira aku,
tiada.
Aku bukan,
tiada
Ucap dan ungkap
Hujan....
Awan....
Pesan......
Puisi dan perangkap
Jerat siulnya, warnanya, dan basahnya
Jangan....
Acuhkan, agar mereka tahu
kalau aku memandang bintang dalam senyum
Segalanya Yang Terlihat Jelas
Satu kata sebelum titik terakhir, akan mengantarkan ke ruang asalmu.
Sabtu, 19 Desember 2015
Kamis, 17 Juli 2014
Aku, Kalian, Hidup Ibarat Riwayat
Aku di balik batu cadas
Mengais pasir menutup luka
Bodoh.....
Ribuan kali-pun aku tetap luka
Untuk apa aku?
Ribuan kalian, ucap
Ribuan kalian, derita
Maaf..........
Untuk apa aku?
Busuk, semburat waktuku,
buang saja....
Seret aku membabi buta
Biar jalan melumur luka
Dan tawa-tangis fana
Langit, maaf khayal ini
Matahari, bulan, dan bintang
Mengharu dalam salinan air mata
Sekali waktu kembali, maaf...................
Mengais pasir menutup luka
Bodoh.....
Ribuan kali-pun aku tetap luka
Untuk apa aku?
Ribuan kalian, ucap
Ribuan kalian, derita
Maaf..........
Untuk apa aku?
Busuk, semburat waktuku,
buang saja....
Seret aku membabi buta
Biar jalan melumur luka
Dan tawa-tangis fana
Langit, maaf khayal ini
Matahari, bulan, dan bintang
Mengharu dalam salinan air mata
Sekali waktu kembali, maaf...................
Minggu, 29 Juni 2014
Canopus dan Vega
Kegagahan Scorpius
ternyata masih konsisten meneduhi pikiran. Menjauhi sekelumit problematika,
menjadi pembatas antara ruang semu dengan kenyataan. Pun tanpa aku sadari,
lintasan Bima Sakti telah menuntun
pada atap rumah yang telah termodifikasi cukup signifikan. Meskipun ragu
laksana benih yang terhembus ke sana ke mari, tak se-konsisten konstelasi pada langit malam, tetap saja
keindahannya tak akan mampu didustakan.
Ini, Kau, Aku
Langit
masih memandang senyum
Dan siul burung terpaksa berseru
Ketika senja urung mendakwah
Kepada raga di tiap sudut kota,
ramai melamun
Tetap saja onggokannya geletak
Di perempatan jalan setapak
Tentang kisah burung perindu
Mencari sarapan kelak menyatu
Langit masih memandang senyum
Dan kertas putih mencari pantun
Dengan tinta dan pena, dan akur
Atau kau yang duduk di kursi
kondektur
Laju kereta tanpa bising karena
santun
Tak ada-kah semut memandang tanya?
Atau seru!
Kawan Ia menulis sajak terlalu
singkat
Tentang bulan, bintang, dan langit
malam
Terindah di jagat raya kumandang
Perwujudan tiga kata terungkap,
Ini,
kau, aku.........
Kamis, 11 Juli 2013
Khayalan Pagi Hari
Kisah di pagi hari yang sangat cerah dan burung-burung bernyanyi dengan merdunya, ruang tanpa waktu terbuka. Memberi peluang untuk kesadaran di dalamnya dan berkehendak menjadi pelukis. Menggambar sesuka hati selalu terpaut dalam diri yang pusing. Lalu mencoba untuk merebahkan diri dengan maksud berpesan kepada kenyataan. Tibalah waktu-seaslinya-tanpa penghambat, kecuali baterai jam dinding rumah.
Kini waktu berjalan seperti sedia kala, dari tadinya telah tiada. Ambil kembali secarik kertas, mengisi harian yang tadi, ruang tanpa waktu. Mengambil juga sebuah kesimpulan yang tergantung pada pohon kontradiksi. Maka berbaburlah menjadi satu untuk ciptakan suasana teramatlah bersesuaian dengan keinginan. Memahami diri agar bertampakkan selalu di bawah sinar matahari yang terik namun sangat cerah.
Ditambah sang 'Cirrus' menjadi hempasan yang berlaku seperti pasir pantai. Biasa putih dan jauh dari diri. Karena jauh menandakan impian diri yang dulu-kecil, tak segan mengagumi. Tak segan pula bertanya, "Seberapa tak pedulikah insan sekitar memandang ?"
Di ujung jalan sana, ingin untuk menerapkan ruang tanpa waktu yang telah lalu. Sedikit perubahan makna tak apa, hanya keinginan segera akan memilikinya.
Langganan:
Komentar (Atom)
